Banyak orang yang mengeluh bahwa dia sudah sholat, puasa
dan beribadah dengan sungguh-sungguh tapi tetep aja miskin dan ga punya
apa-apa, dan banyak juga teman-teman santri bahkan ustad yang saya kenal yang
saya tau ibadah, sholat,puasa nya rajin tapi tetep aja miskin, sementara banyak
juga temen-temen lain yang keliatannya jarang dari ibadah tapi juah lebih kaya
dan lebih sukses, temen-temen yang miskin berdalih ini sudah takdir, dan
mungkin sudah nasibnya begini, benarkah demikian? Inikah nasib ataukah takdir? Saya
ngerasa ada yang salah dengan penomena ini, ada mata rantai yang putus yang harus
ditemukan.
Seperti yang kita tau mempercayai qada dan qadar
adalah rukun iman yang ke 6 yang wajib kita yakini seyakin yakinnya, qada dan
qadar ini menimbulkan dua kesan terhadap seseorang, kesan pertama orang ngga
akan merasa stress dalam menjalani kehidupannya karena dalam hati dia udah
meyakini apa yang terjadi dalam kehidupannya baik atau buruk akan diserahkan
kepada allah, ini yang positif tapi kesan yang kedua dia akan mengatakan
ngapain usaha susah payah toh semuanya sudah ditentukan sama allah, ngapain
kerja keras hidup ini tinggal ngejalani takdir, nah kebanyakannya kesan negatif
seperti ini.
Banyak orang yang berpangku tangan tanpa ikhtiar
yang optimal dan hanya menyalahkan takdir, Saat saya mengatakan kalau takdir
bisa di ubah banyak yang tidak sependapat dan merasa heran “kok takdir bisa di
ubah?” bukannya pada saat manusia dalam rahim ibu saat usia umur 40 hari allah
sudah menetapkan rezeki, jodoh, kematian, kehidupan baik buruknya? Atau kata
orang sunda jodo, pati, bagja, cilaka sudah ditetapkan sesuai dengan ketentuan
tersebut? Jadi mana bisa takdir itu di ubah?
Baiklah,
baiklah saya beri penjelasan sesuai SOP (Standart Operation Procedure) yaitu
quran dan Hadist, Takdir itu ada dua, takdir mubram dan takdir mu’alaq. Takdir
mubram itu ketentuan Allah yang pasti berlaku, semua manusia kaya miskin,
tinggi pendek, putih hitam, mau atau ga mau, suka ga suka pasti mengalaminya
dan tidak dapat dihalang oleh sesuatu apapun, contohnya kematian seperti yang
dijelaskan di surat al anbiya : 35 “"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Saya akan menguji kamu dengan keburukan dan
kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Sayalah kamu
dikembalikan”.
Jadi
kematian itu perkara yang pasti dihadapi dan dialami, itulah takdir mubram ,
allah tegaskan juga di surah ar-Ra’ad, ayat: 11 "Dan
apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang
dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.
Nabi
pun pernah berwasiat : kalau Allah sudah menentukan sesuatu maka tiada seorangpun yang sanggup
menolaknya”.
Nah
jadi takdir mubram ini hak prerogatif allah, kita tidak kuasa untuk merubahnya
tapi allah lah yang berkuasa dan berkehendak untuk menetapkan atau menghapusnya,
seperti yang di jelaskan dalam QS. AR-RA’D : 39 “Allah menghapus dan menetapkan
apa yang DIA kehendaki dan di sisi-Nya terdapat ummul-kitab (Lauh Mahfuz ) “.
Untuk itu tugas kita hanya berikhtiar supaya allah menetapkan takdir yang
terbaik buat kita. Seperti pesan nabi "Tidak
ada yang mampu menolak takdir Allah kecuali doa”. Disamping itu ada keterangan
lain bahwa "Siapa saja yang ingin dimudahkan rezqinya, dan dipanjangkan
umurnya, maka hendaklah menyambung silaturrahim”. Namun
bukan berarti allah membatalkan takdirnya, allah sudah menetapkan beberapa
takdir bukan hanya satu takdir saja,
Contohnya
begini, Allah menentukan takdir hidup saya selama 50 tahun, di samping itu juga
Allah menentukan takdir lain untuk saya bisa hidup sampai 60 tahun lamanya,
asal syarat dan ketentuan berlaku, dalam artian jika saya menyambung
silaturahmi maka takdir yang kedua yang akan di eksekusi tapi kalau tidak maka
takdir pertama yang berlaku yaitu hidup hanya sampe usia 50 tahun.
Suatu hari
Umar bin Khattab dan rombongannya melakukan perjalanan ke suatu tempat di
Syiria, pada saat sampai ditujuan dikabarkan bahwa tempat yang dituju sedang
dilanda penyakit menular, setelah berunding akhirnya sepakat untuk membatalkan
perjalanan tersebut dan kembali ke Madinah, kemudian salah seorang sahabat yang
bernama Abu Ubaidah tiba-tiba memprotes Umar
dan berkata Apakah kita hendak lari
menghindari taqdir Allah?” Umar pun menjawab: “ya, kita menghindari suatu
taqdir Allah dan menuju taqdir Allah yang lain”.
Ada juga kisah lain, suatu hari malaikat Izra`il,
memberi kabar kepada Nabi Daud a.s., bahwa seorang pemuda sebut saja si fulan
minggu depan akan dicabut nyawanya. Namun ternyata setelah sampai satu minggu
si Fulan ini masih hidup, lalu Nabi Daud bertanya, mengapa si Fulan belum
mati-mati juga ? Izra`il menjawab, "ya semula saya mau mencabut nyawanya,
namun saat masa pencabutan nyawa, Allah memberi perintah kepadaku untuk
menangguhkannya dan membiarkan ia hidup lagi untuk 20 tahun mendatang, karena
orang tersebut aktif menyambung silaturrahmi dengan sesama sudaranya, karena
wasilah itulah allah lalu memerikan tambahan umur selama 20 tahun.
Kisah ini memberikan
gambaran jelas bahwa takdir itu bukan hanya satu melainkan ada beberapa. Jadi
kesimpulannya, semua peristiwa, kejadian dan keadaan yang telah dan yang akan
kita hadapi, semuanya masih bisa dikhtiarkan ketetapan takdirnya, bagaimana
cara nya? Inilah pesan nabi dan simak baik-baik :
1.
Sesungguhnya doa bermanfaat terhadap sesuatu yang
sedang terjadi dan yang belum terjadi, dan tidak ada yang bisa menolak takdir
kecuali doa (HR. Tirmidzi,Hakim)
2.
Silaturahmi dapat menambah umur dan sedekah dapat
mengubah takdir mubram (HR. Bukhari Muslim, Tirmidzi,Ahmad)
3.
Tidak ada yang dapat menolak takdir Allah,selain
doa,dan tidak ada yang dapat menambah umur seseorang selain (perbuatan)
kebaikan (HR.Tirmidzi)
Yang kedua takdir Mu’alaq, kalau
takdir ini bergantung pada usaha kita sendiri, inilah yang sering disebut nasib.
jadi kalau takdir mu’alaq ini kita yang harus mengubahnya jika tidak berusaha merubahnya
ya salah sendiri, seperti yang disinggung dalam
surat ar-rad : 11 “ "Sesungguhnya
Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada
pada diri mereka sendiri”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar