Rabu, 11 Januari 2012

Nasib ataukah Takdir?


Banyak orang yang mengeluh bahwa dia sudah sholat, puasa dan beribadah dengan sungguh-sungguh tapi tetep aja miskin dan ga punya apa-apa, dan banyak juga teman-teman santri bahkan ustad yang saya kenal yang saya tau ibadah, sholat,puasa nya rajin tapi tetep aja miskin, sementara banyak juga temen-temen lain yang keliatannya jarang dari ibadah tapi juah lebih kaya dan lebih sukses, temen-temen yang miskin berdalih ini sudah takdir, dan mungkin sudah nasibnya begini, benarkah demikian? Inikah nasib ataukah takdir? Saya ngerasa ada yang salah dengan penomena ini, ada mata rantai yang putus yang harus ditemukan.
Seperti yang kita tau mempercayai qada dan qadar adalah rukun iman yang ke 6 yang wajib kita yakini seyakin yakinnya, qada dan qadar ini menimbulkan dua kesan terhadap seseorang, kesan pertama orang ngga akan merasa stress dalam menjalani kehidupannya karena dalam hati dia udah meyakini apa yang terjadi dalam kehidupannya baik atau buruk akan diserahkan kepada allah, ini yang positif tapi kesan yang kedua dia akan mengatakan ngapain usaha susah payah toh semuanya sudah ditentukan sama allah, ngapain kerja keras hidup ini tinggal ngejalani takdir, nah kebanyakannya kesan negatif seperti ini.
Banyak orang yang berpangku tangan tanpa ikhtiar yang optimal dan hanya menyalahkan takdir, Saat saya mengatakan kalau takdir bisa di ubah banyak yang tidak sependapat dan merasa heran “kok takdir bisa di ubah?” bukannya pada saat manusia dalam rahim ibu saat usia umur 40 hari allah sudah menetapkan rezeki, jodoh, kematian, kehidupan baik buruknya? Atau kata orang sunda jodo, pati, bagja, cilaka sudah ditetapkan sesuai dengan ketentuan tersebut? Jadi mana bisa takdir itu di ubah?
Baiklah, baiklah saya beri penjelasan sesuai SOP (Standart Operation Procedure) yaitu quran dan Hadist, Takdir itu ada dua, takdir mubram dan takdir mu’alaq. Takdir mubram itu ketentuan Allah yang pasti berlaku, semua manusia kaya miskin, tinggi pendek, putih hitam, mau atau ga mau, suka ga suka pasti mengalaminya dan tidak dapat dihalang oleh sesuatu apapun, contohnya kematian seperti yang dijelaskan di surat al anbiya : 35 “"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Saya akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Sayalah kamu dikembalikan”.  
Jadi kematian itu perkara yang pasti dihadapi dan dialami, itulah takdir mubram , allah tegaskan juga di surah ar-Ra’ad, ayat: 11 "Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.
Nabi pun pernah berwasiat : kalau Allah sudah menentukan sesuatu maka tiada seorangpun yang sanggup menolaknya”.
Nah jadi takdir mubram ini hak prerogatif allah, kita tidak kuasa untuk merubahnya tapi allah lah yang berkuasa dan berkehendak untuk menetapkan atau menghapusnya, seperti yang di jelaskan dalam QS. AR-RA’D : 39 “Allah menghapus dan menetapkan apa yang DIA kehendaki dan di sisi-Nya terdapat ummul-kitab (Lauh Mahfuz ) “. Untuk itu tugas kita hanya berikhtiar supaya allah menetapkan takdir yang terbaik buat kita. Seperti pesan nabi "Tidak ada yang mampu menolak takdir Allah kecuali doa”. Disamping itu ada keterangan lain bahwa "Siapa saja yang ingin dimudahkan rezqinya, dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menyambung silaturrahim”. Namun bukan berarti allah membatalkan takdirnya, allah sudah menetapkan beberapa takdir bukan hanya satu takdir saja,
Contohnya begini, Allah menentukan takdir hidup saya selama 50 tahun, di samping itu juga Allah menentukan takdir lain untuk saya bisa hidup sampai 60 tahun lamanya, asal syarat dan ketentuan berlaku, dalam artian jika saya menyambung silaturahmi maka takdir yang kedua yang akan di eksekusi tapi kalau tidak maka takdir pertama yang berlaku yaitu hidup hanya sampe usia 50 tahun.
Suatu hari Umar bin Khattab dan rombongannya melakukan perjalanan ke suatu tempat di Syiria, pada saat sampai ditujuan dikabarkan bahwa tempat yang dituju sedang dilanda penyakit menular, setelah berunding akhirnya sepakat untuk membatalkan perjalanan tersebut dan kembali ke Madinah, kemudian salah seorang sahabat yang bernama Abu Ubaidah tiba-tiba memprotes Umar  dan berkata Apakah kita hendak lari menghindari taqdir Allah?” Umar pun menjawab: “ya, kita menghindari suatu taqdir Allah dan menuju taqdir Allah yang lain”.
Ada juga kisah lain, suatu hari malaikat Izra`il, memberi kabar kepada Nabi Daud a.s., bahwa seorang pemuda sebut saja si fulan minggu depan akan dicabut nyawanya. Namun ternyata setelah sampai satu minggu si Fulan ini masih hidup, lalu Nabi Daud bertanya, mengapa si Fulan belum mati-mati juga ? Izra`il menjawab, "ya semula saya mau mencabut nyawanya, namun saat masa pencabutan nyawa, Allah memberi perintah kepadaku untuk menangguhkannya dan membiarkan ia hidup lagi untuk 20 tahun mendatang, karena orang tersebut aktif menyambung silaturrahmi dengan sesama sudaranya, karena wasilah itulah allah lalu memerikan tambahan umur selama 20 tahun.
Kisah ini memberikan gambaran jelas bahwa takdir itu bukan hanya satu melainkan ada beberapa. Jadi kesimpulannya, semua peristiwa, kejadian dan keadaan yang telah dan yang akan kita hadapi, semuanya masih bisa dikhtiarkan ketetapan takdirnya, bagaimana cara nya? Inilah pesan nabi dan simak baik-baik :
1.     Sesungguhnya doa bermanfaat terhadap sesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi, dan tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa (HR. Tirmidzi,Hakim)
2.     Silaturahmi dapat menambah umur dan sedekah dapat mengubah takdir mubram (HR. Bukhari Muslim, Tirmidzi,Ahmad)
3.     Tidak ada yang dapat menolak takdir Allah,selain doa,dan tidak ada yang dapat menambah umur seseorang selain (perbuatan) kebaikan (HR.Tirmidzi)
Yang kedua takdir Mu’alaq, kalau takdir ini bergantung pada usaha kita sendiri, inilah yang sering disebut nasib. jadi kalau takdir mu’alaq ini kita yang harus mengubahnya jika tidak berusaha merubahnya ya salah sendiri, seperti yang disinggung   dalam surat ar-rad : 11 “ "Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar