Menurut
Adi W Gunawan seorang pakar hipnoterapi terkemuka di Indonesia
mengatakan bawhwa Kondisi hipnosis bisa juga terjadi saat seseorang
berada dalam tekanan mental yang melampaui ambang batas toleransi yang
diijinkan pikiran bawah sadarnya. Saat seseorang berada di dalam tekanan
mental, mengalami suatu peristiwa dengan muatan emosi negatif yang
tinggi, maka pada saat itu hanya ada dua pilihan; fight (lawan) atau
flight (lari).
Saat
seseorang tegang maka adrenalin akan dipompa masuk ke dalam darah dan
menyiapkan fisiknya untuk siap melakukan perlawanan. Hal ini bisa
dirasakan dengan jantung yang berdegup semakin kencang, otot-otot tubuh
menjadi kaku, dan seluruh sistem diri siap untuk menghadapi dan
mengatasi bahaya atau sesuatu yang dipersepsikan sebagai bahaya.
Bahaya
yang di sini bisa berupa
bahaya yang mengancam secara fisik maupun mental. Bila tekanan atau
ancaman terlalu besar dan tidak mampu dilawan (fight) maka secara reflek
pikiran akan memilih opsi kedua yaitu flight atau lari. Lari dalam hal
ini bisa sungguh-sungguh melarikan diri, mengambil langkah seribu, atau
bisa juga “melarikan diri” ke dalam. Saat seseorang lari ke dalam
dirinya maka pada saat itu ia masuk ke kondisi trance atau hipnosis.
Seringkali orang bisa masuk ke kondisi deep trance atau bahkan very deep
trance.
Saya
pernah menangani seorang klien wanita yang seringkali pingsan dan
katanya kalau sudah pingsan sadarnya lama sekali. Berbagai cara sudah
dilakukan untuk membangunkan klien ini tapi tidak berhasil dan Nanti
sadarnya terjadi tiba-tiba.
Mendengar
kisah ini saya langsung berkata pada klien ini, “Sebenarnya anda tidak
pingsan. Yang terjadi adalah anda mengalami begitu banyak tekanan
mental, baik dari keluarga maupun dari sekolah, yang membuat anda tidak
tahan, dan akhirnya anda memutuskan untuk lari dari keadaan ini. Benar
atau tidak?”
“Lho
ko Pa Adam tau kalau saya banyak tekanan jawab klien.
“Lha
iya lah…apa yang anda alami ini sebenarnya sesuatu yang sangat alamiah.
Nah, saat anda “pingsan” anda tetap masih mendengar suara orang di
sekitar anda, kan?” tanya saya lagi.
“Ya,
Pak” jawab klien.
“Mengapa
anda tidak mau keluar dari kondisi “pingsan” padahal anda mendengar
orang-orang di sekitar anda memanggil-manggil nama anda?” kejar saya.
“Soalnya
saat “pingsan” itu saya merasakan begitu nikmat, tenang, dan
perasaan bahagia yang tidak terlukiskan. Sekarang saja kalau saya mau
saya bisa masuk kembali ke kondisi ini” jawab klien saya.
Nah,
pembaca, tahukah anda bahwa klien ini bukannya pingsan tapi ia berada
dalam kondisi trance yang sangat-sangat dalam yang dikenal dengan level
Esdaile atau Hypnotic Coma?
Saat
seseorang masuk ke kondisi ini maka yang ia rasakan adalah suatu
perasaan euphoria, bahagia yang luar biasa, tidak terlukiskan, sangat
nyaman, dan orang biasanya tidak mau keluar dari kondisi ini. Inilah
yang sebenarnya dialami oleh klien saya. Jadi ia bukannya pingsan tapi,
karena tidak kuat melawan tekanan mental/psikis, memutuskan untuk flight
(lari) dan masuk ke dalam dirinya sendiri, dan trance.
Di
salah satu sesi terapi yang saya lakukan pada klien ini benar ia tidak
mau keluar dari kondisi ini. Saya akhirnya menggunakan teknik Milton
Model kemudianmeminta klien meng accses kembali perasaan sehat,segar,
percaya diri dan saat klien di puncak emosi positif nya langsung di
anchor.
Berapa
lama waktu yang saya butuhkan untuk menyadarkan klien itu? Tidak lama.
hanya butuh waktu sekitar 5 sampai 7 menit saja. Nggak pake doa,
baca-baca, atau ritual tertentu.
Apa
yang saya lakukan?
Ya,
saya panggil nama mereka dan saya minta mereka bangun. Saya tahu mereka
masih tetap bisa mendengar suara saya. Saya tahu bahwa mereka tidak
benar-benar tidak sadarkan diri. Mereka hanya masuk ke kondisi deep
trance. Jadi, ya saya bimbing mereka keluar dari kondisi trance seperti
saat saya selesai menerapi orang. Mudah, kan?
Ok,
kalau begitu, pertanyaannya, “Bagaimana dengan kesurupan masal yang
sering diberitakan di media masa?”
Oh, ini jawabannya sama seperti penjelasan di atas. Coba anda amati. Yang seringkali mengalami kesurupan adalah murid kelas 3 SMP atau kelas 3 SMA dan biasanya wanita.
Oh, ini jawabannya sama seperti penjelasan di atas. Coba anda amati. Yang seringkali mengalami kesurupan adalah murid kelas 3 SMP atau kelas 3 SMA dan biasanya wanita.
Mengapa
kelas 3 SMP atau 3 SMA?
Ya,
karena mereka takut dan sangat tertekan dengan tingginya beban akademis,
jam pelajaran yang sangat panjang yang melelahkan fisik dan mental,
muatan pelajaran dengan tingkat kesulitan yang tinggi, dan ditambah lagi
adanya UN atau Ujian Nasional.
Mereka
semua ketakutan. Mereka secara terus menerus mengalami tekanan mental.
Hingga pada satu saat, karena sudah melebihi ambang batas toleransi,
murid-murid ini, karena tidak bisa melawan (fight), akhirnya memilih
lari (flight). Begitu ada satu orang kesurupan maka secara cepat
menyebar ke rekan-rekannya. Ini sebenarnya bentuk histeria masal.
Saat
“kesurupan” ini, yang sebenarnya kondisi deep trance, maka
terjadilah abreaction atau keluarnya emosi yang selama ini tertekan
(repressed emotion).
Dari
berita-berita di media massa diketahui bahwa kebanyakan pelajar yang
mengalami kesurupan adalah pelajar wanita. Dugaan itu didukung kenyataan
serupa, berdasar penelitian Gaw, Ding, Levine, dan Gaw (1998) di
Tiongkok.
Sejauh
ini anda pasti sudah cukup jelas dan mengerti kesurupan dari sudut
pandang ilmu hipnoterapi.
Sebagai
penutup saya ingin anda berpikir mengenai fenomena yang terjadi di
sekitar anda. Saya yakin anda pasti pernah mendengar atau melihat
langsung bagaimana seseorang yang “kesurupan” roh Harimau dan
berperilaku persis seperti si Harimau.
Pertanyaannya
adalah mengapa kok Harimau? Belum pernah kan anda membaca seseorang yang
kesurupan burung pipit, kelinci, atau ikan mas?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar